KABAR
21 Pebruari 2017
Perlindungan, Anak-Anak, dan Televisi
“Akhir April 2015 lalu, seorang anak kelas 1 SD di Pekanbaru meninggal akibat pengeroyokan teman-temannya. Menurut keterangan orang tuanya, korban dan teman-temannya sedang bermain-main menirukan adegan perkelahian dalam sinetron “7 Manusia Harimau” yang ditayangkan RCTI. Teman-temannya memukul dengan sapu dan menendang seperti tergambar dalam sinetron. Akibat kejadian ini, korban mengalami kerusakan syaraf dan meninggal setelah sempat dirawat di rumah sakit.”

“Pada 2009, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun di Jakarta Pusat ditemukan tewas tergantungdi ranjangnya yang bertingkat. Menurut keterangan orang tua korban dan saksi lainnya, diketahui bahwa ia gemar meniru aksi seorang pesulap di televisi. Setiap selesai menyaksikan tayangan “Limbad The Master”, korban mempraktikkan adegan yang ditontonnya. Korban juga sempat menusuk tangannya dengan sejumlah jarum kemudian dipertontonkan kepada teman-temannya. Orang tua korban sering marah dan menegur kebiasaan anaknya ini. Ketika akhirnya kebiasaan korban meniru sulap Limbad merenggut nyawanya, orang tuanya sedang berjualan di pasar.” http://www.remotivi.or.id/kabar/79/...
Negara Indonesia, menjadi salah satu negara yang mengikuti konvesi hak anak yang disahkan oleh PBB. Sebagai perwujudan komitmen pemerintah dalam meratifikasi Konvensi Hak - Hak Anak, pemerintah Indonesia telah mengesahkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Di dalamnya termaktub jelas apa, siapa, dan bagaimana itu perlindungan anak dapat terimplementasikan.
 
Pasal 4 : Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Artinya, anak – anak seharusnya dilindungi dari tindak – tindak kekerasan, kekerasan dapat berupa kekerasan fisik, mental, dan seksual. Selain itu anak juga harus dipenuhi haknya untuk bertumbuh kembang secara wajar. Wajar di sini berarti sesuai dengan kondisi fisik dan social pada usia anak. Anak – anak menjadi sosok yang rentan untuk meniru tindakan apa yang dilihat dan didengar oleh dirinya, sebab fase anak merupakan fase polos, belum dapat menentukan salah dan benar dengan nalarnya sendiri, keluarga menjadi unit terkecil dari masyarakat yang dapat mewujudkan salah satu dari hak anak, yaitu hak untuk mendapatkan perlindungan. Juga masih banyak lagi yang harus terlibat untuk mewujudkan hak tersebut.
 
Di jaman serba canggih ini, teknologi media informasi tumbuh secara massif, tak terkecuali televisi. Kita tau, televisi menjadi media yang lebih dulu lahir dibandingkan dengan internet dan segala per-media sosial-annya. Televisi juga menjadi salah satu alat yang mudah diakses oleh berbagai lapisan masyarakat. Pertumbuhan televisi juga tak kalah hebatnya, semakin banyak industri televisi yang bermunculan, artinya akan banyak lagi tayangan – tayangan televisi yang disuguhkan kepada masyarakat, dengan jam tayang yang hampir 24 jam tidak pernah mati.
 
Lantas, apa hubungannya dengan Perlindungan, Anak – anak, dan Televisi ?
 
Tulisan di awal, merupakan contoh kasus yang terjadi kepada anak – anak akibat dampak buruk yang dihasilkan dari sebuah program acara atau tayangan televisi. Jika dilihat kembali pada Undang Undang Perlindungan Anak, jelas tertulis bahwa Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari :
 
a. penyalahgunaan dalam kegiatan politik; b. pelibatan dalam sengketa bersenjata; c. pelibatan dalam kerusuhan sosial; d. pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan; dan e. pelibatan dalam peperangan.
 
Sadar kah kita, bahwa ke lima poin di atas sejatinya sering kali hadir dalam tayangan program acara televisi. Melalui tayangan berita, reality show, talk show, dan juga sinetron (menjadi salah satu tayangan yang lebih banyak digemari anak – anak). Televisi menjadi sulit dikontrol, tulisan kecil yang samar – samar pada ujung atas atau bawah layar yang bertulisakan A (anak), D (Dewasa), R (Remaja), dan BO (Bimbingan Orang Tua) tidak dihiraukan oleh masyarakat. Akhirnya, televisi dapat ditonton oleh siapa saja termasuk anak – anak kecil yang polos, lucu dan menggemaskan itu. Remot TV begitu sangat mudah untuk dioperasikan. Anak – anak memang tidak terlibat langsung di lapangan, namun berkat gambar – gambar dan audio yang disebarkan melalui media televisi, anak – anak terlibat menjadi penonton dari kejauhan, beribu – ribu kilo meter jauhnya, yang dampaknya akan mempengaruhi anak – anak. Saya sedang ingin membicarakan dampak buruk atau bahayanya anak – anak ketika menonton tayangan televisi, ya tentu tayangan yang tidak cocok untuk anak berikut dengan jam tayang siaran yang juga tidak tepat.
 
Karena itu, tayangan – tayang televisi dapat mempengaruhi perkembangan otak anak, jika tayangan televisi terdapat konten – konten yang buruk maka otak anak akan menyerap hal – hal yang buruk tersebut, lantas mempengaruhi sikap anak, sebab anak belum memiliki daya kritis terhadap apa yang meraka lihat dan dengar. Contohnya seperti sinetron yang menayangkan adegan kekerasan, maka kekerasan tersebut bisa saja dipraktekan oleh anak di dalam kehidupannya. Hal ini juga menggambarkan bahwa perlindungan anak terhadap kekerasan belum dapat diimplementasikan dengan baik, temasuk oleh para konten kreator tayangan televisi yang tidak mempertimbangkan perlindungan anak, baik itu secara konten juga kekeliruan dalam menentukan jam tayang.
Selain kekerasan, tayangan televisi juga banyak menggambarkan adegan seksual yang juga berpengaruh buruk terhadap anak, mereka juga mempunyai rasa ingin tau yang tinggi, sehingga rentan untuk meniru dan mencoba melakukan apa yang mereka lihat.
 
Sinetron yang tidak layak bagi anak, namun anak – anak seperti dicekoki untuk melihat tayangan tersebut, sebab minimnya tayangan acara televisi yang diperuntukan untuk anak, sering kali isinya mengabaikan tanggung jawab sosial, moral, dan etika. Kita tidak bisa menyalahkan anak – anak karena mereka menonton televisi, realitasnya setiap rumah di jaman ini sudah memiliki televisi, dan bagi mereka televisi menjadi media yang mudah diakses untuk mendapatkan hiburan, televisi dihilangkan fungsinya – selain untuk hiburan dan media informasi seharusnya menjadi media untuk pendidikan – lagi - lagi televisi minim akan tayangan yang mempertimbangkan kebutuhan tumbuh kembang anak sesuai dengan usianya. Terhindar dari tayangan – tayangan kekerasan yang akhirnya, mereka juga dapat terhindar dari tindakan – tindakan kekerasan.
 
Telalu lama anak menonton televisi juga dapat berpengaruh buruk seperti adanya budaya bisu di dalam keluarga, jarang berkomunikasi. Mengurangi semangat belajar pada anak, atau mengurangi kreativitas. Perlindungan dimulai dari orang tua (rumah), namun keterlibatan semua pihak juga amat penting, terutama oleh pemerintah dan para konten kreator program acara televisi, dalam hal ini konteks media televisi seharusnya bisa menjadi alat untuk memenuhi hak – hak anak. Melindungi dari tindakan kekerasan. Membantu tumbuh kembang anak, bukan sebaliknya.
 
Satu hal yang harus dipahami " ANAK ADALAH PLAGIAT/PENIRU YANG SANGAT ULUNG". Jika memberikan tayangan yang baik mereka akan menirunya, pun juga jika memberikan tayangan yang buruk mereka akan menirunya juga. Silahkan pilih mau memberikan yang mana, sebelum akhirnya televisi dimatikan.
 

(Karya tulis ini diterbitkan pertama kali di laman penulis: S. Febrianti Patimah, sebagai naskah partisipasi "Lomba Notes Facebook Rapotivi 2016". Penulis meraih juara 1)

KPI Perlu Tetapkan Standar Tindak Lanjut Aduan
Pada Jumat, 14 Juli, Komisi
Kompilasi Aduan Warga 1 - 30 Juni 2017
Kompilasi Aduan Warga 1
Kompilasi Aduan Warga 1 - 31 Mei 2017
Pada periode ini terdapat 123
Kompilasi Aduan Warga 1 - 30 April 2017
Pada periode ini terdapat 71