KABAR
26 Januari 2017
Televisi Dan Role Model Yang Ngawur
Televisi merupakan media murah meriah yang menjadi sarana hiburan, mencari informasi dan edukasi. Visualisasi yang jelas serta suara yang dihasilkan oleh televisi membuat kita tidak perlu susah mencerna apa yang sedang diinformasikan. Nielsen sebuah lembaga rating di Indonesia mengatakan bahwa televisi masih menjadi medium utama yang dikonsumsi masyarakat Indonesia(95%) disusul oleh internet (33%), radio (20%), suratkabar (12%), tabloid (6%) dan majalah (5%).
 
Pertukaran informasi dan ide terjadi dengan cepat melalui media ini. Ditambah dengan program-program hiburan, seperti sinetron, reality show, talkshow, gosip dan konser-konser musik dapat menghilangkan pegal-pegal akibat kerja seharian atau mengurus rumah tangga seharian. Anak-anak kita juga tidak luput menikmatinya, alih-alih sebagai media hiburan melepas penat akibat sekolah seharian. Televisi bagi anak-anak nyatanya menjadi role model atau suri tauladan untuk mereka. Mengapa dikatakan demikian karena televisi menjadi patokan dalam berprilaku. Menjadi rujukan dalam bersikap.
 
Dwyer seorang peneliti media juga mengatkan bahwa televisi mampu merebut 94% saluran masuknya pesan- pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia melalui mata dan telinga. Televisi mampu membuat seseorang mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengar walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum orang akan ingat 85% dari apa yang mereka lihat di televisi setelah 3 jam kemudian dan 65% setelah 3 hari kemudian.
 
Televisi mengajarkan bagaimana cara marah, cara bersedih, cara bertengkar, dan cara-cara lainnya yang tidak mereka dapatkan dari orangtua maupun lingkungan mereka.Program televisi seperti sinetron remaja yang akhir-akhir ini menjadi tauladan-tauladan baru.
 
Lantas mengapa dikatakan ngawur? karena contoh-contoh perilaku yang mereka dapatkan melalui program televisi tidak sesuai realitas yang ada, bahkan dilebih-lebihkan (termasuk menyimpang dari nilai-nilai yang diyakini masyarakat), tidak masuk akal bahkan cenderung mengikis sikap kritis, juga mematikan kreativitas anak dengan mempertontonkan informasi serta sikap yang tidak bermutu.
 
Magnet bagi Anak-anak

Lapangan berumput hijau sejak jam pulang sekolah hingga menjelang matahari tenggelam, riuh oleh suara anak-anak bermain. Petak umpet, lompat tali, bermain gundu, gasing juga gerobak sodor. Apalagi saat sekolah libur, lapangan ramai sejak pagi hari. Suasana seperti itu hanya dapat dirasakan dahulu sebelum televisi menjadi magnet yang kuat dan bahkan mengisi sejumlah besar waktu luang anak-anak. Seperti yang dikatakan Eleanor E. Maccaby bahwa kebiasaan menonton televisi mengurangi jam bermain anak, serta menyita waktunya untuk melakukan sosialisasi dengan lingkungannya.
 
Sekarang tawa anak-anak masih tetap renyah namun ia asyik sendirian mempertawakan konten bulying juga diam terhanyut dalam suasan percintaan ala sinetron remaja.
 
Meniru perilaku dunia yang “diciptakan” melalui kotak bernama televisi, membawa dampak tersendiri untuk anak-anak kita. Salah satunya adalah perilaku dari sinetron remaja yang membuat mindset anak-anak (usia sekolah SD dan SMP) menjadi semakin menyempit. Bahwa kehidupan ini hanya soal memiliki barang-barang mewah dan bermusuhan.
 
Pengaruh negatif televisi terhadap perilaku anak-anak ini bukan tanpa alasan karena anak-anak kita memiliki waktu bersama televisi lebih panjang dibandingkan dengan waktu bermain dan belajar.
 
Berdasarkan laporan dari UNICEF pada tahun 2007 anak-anak Indonesia menonton rata-rata 5 jam sehari dengan total 1560/1820 jam setahun. Angka ini lebih besar dari angka belajar anak Sekolah Dasar yang hanya 1000 jam setahun. Jadi tidak heran jika televisi menjadi sumber keteladan yang besar bagi anak-anak.
 
Menonton acara televisi dengan tanpa pengawasan orangtua akan menimbulkan dampak yang lebih besar lagi. Bukan saja adegan-adegan dan ucapan- ucapan yang akan mereka tiru tetapi lebih pada cara memandang hidup. Konsumtif dan individual. Dikutip dari forum.liputan6.com sebuah berita yang sedikitnya menggambarkan salah satu sinetron remaja begitu mempengaruhi perilaku anak-anak kita, Terinspirasi “Anak Jalanan”, bocah ini ciuman dan minta motor Ninja, Duh!
 
Geser Televisi

Bahaya Televisi sebagai role model yang ngawur tidak lantas disadari oleh orang tua disekitar anak-anak. Bahkan tidak sedikit yang menyarankan anaknya untuk menonton televisi saja di rumah daripada bermain dengan teman-teman mereka yang dianggap dapat memberikan pengaruh-pengaruh negatif. Anak yang menonton televisi dianggap anak rumahan yang anteng tidak suka main juga hemat jajan. Padalah menonton televisi yang berlebihan sangat berdampak terhadap psikologisnya.
 
Sedangkan dengan bergaul dan bermain dengan lingkungan sekitar dapat menambah daya eksplorasi, kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah dengan baik. Anak-anak mampu mengidentifikasi siapa diri mereka, lingkungan meraka dan belajar melalui hal-hal yang mereka sukai lewat permainan-permainan. Misalnya daya tahan, daya juang, sportivitas didapat dengan mudah seperti ketika mereka bermain gundu.
 
Jika kita dapat mengurangi jam menonton televisi bagi anak-anak, dan terus mendampingi mereka dalam tumbuh kembang dan berdiskusi atas segala pertanyaan yang mereka lontarkan, pada akhirnya anak-anak juga dapat mengetahui siapa sebenarnya role model bagi mereka.
 
Tinggalkan tv-mu, ayok main !
 
(Karya tulis ini diterbitkan pertama kali di laman penulis: Ratu Arti Wulan Sari, sebagai naskah partisipasi "Lomba Notes Facebook Rapotivi 2016". Penulis meraih juara 2)
KPI Perlu Tetapkan Standar Tindak Lanjut Aduan
Pada Jumat, 14 Juli, Komisi
Kompilasi Aduan Warga 1 - 30 Juni 2017
Kompilasi Aduan Warga 1
Kompilasi Aduan Warga 1 - 31 Mei 2017
Pada periode ini terdapat 123
Kompilasi Aduan Warga 1 - 30 April 2017
Pada periode ini terdapat 71