KABAR
06 Maret 2015
Jurnalisme Air Mata

"Bapak, bagaimana perasaannya rumah kena banjir?"

"Apa ada firasat rumahnya bakal hancur kena lava panas, Bu?"

Praktik jurnalisme yang asal-asalan ketika berhadapan dengan bencana jelas membuat geram siapapun. Ingatan kita tentu masih segar ketika TV One menampilkan jenazah korban kecelakaan Air Asia QZ8501. Tidak hanya keluarga korban, tapi para penonton pun merasa terusik perasaannya ketika bencana justru dieksploitasi demi rating semata. 

Sudah menjadi kebiasaan buruk jurnalisme di Indonesia, bahwa ketika ada peliputan bencana, pertanyaan seperti “bagaimana perasaannya?”, “apa ada firasat sebelumnya?”, dan pertanyaan tak empatik sejenisnya selalu menyertai. Tak jarang, walaupun yang diwawancarai sudah menunjukkan ketidaknyamanan, reporter tetap melemparkan pertanyaan senada untuk memberikan kesan dramatis. Pada kasus yang lebih menggelikan, liputan tentang bencana menampilkan aspek mistik dari bencana tersebut, seperti dengan mewawancarai paranormal. 

Seharusnya, sesuai dengan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) pasal 25 Pedoman Perilaku Penyiaran (P3), peliputan bencana tidak boleh menambah penderitaan ataupun trauma orang maupun keluarga yang mengalaminya. Artinya, media haruslah objektif dalam meliput bencana, dan justru harus mempertimbangkan proses pemulihan korban maupun keluarganya. Media dalam meliput bencana juga dilarang menampilkan suara/gambar korban bencana, misalnya korban sedang menderita/kesakitan, termasuk jenazah korban meninggal.

Hal yang justru paling penting dari peliputan bencana adalah mitigasi, yakni bagaimana agar masyarakat lain bersiap jika suatu saat menghadapi bencana serupa. Artinya, media di sini berfungsi sebagai pihak yang mendidik masyarakat, alih-alih menjual “telenovela” yang diangkat dari duka orang lain.

Tapi kerap kali pemberitaan media malah merugikan. Peliputan meletusnya Gunung Merapi pada 2010 di Yogyakarta adalah salah satu contoh tersebut. Akibat Silet (RCTI) mewawancarai seorang paranormal yang memprediksi akan ada letusan susulan, warga panik dan berbondong-bondong minta dipindahkan dari posko bencana. Para relawan akhirnya kewalahan untuk menenangkan warga akibat pemberitaan tersebut. Puncaknya, beberapa media dilarang oleh warga untuk meliput di kawasan Gunung Merapi saat itu.

Dalam peliputan bencana, sudah seyogianya media massa berempati kepada korban bencana dan tetap fokus kepada penggalian informasi demi mendukung upaya pencarian korban, pemulihan, atau pemberian kiat menghadapi bencana. Sebab, tidak sepatutnya media massa menjadi bencana baru bagi para korban bencana, bukan?

Kompilasi Aduan Warga 1-30 November 2017
Pada periode ini terdapat 13
Tak Ada Kepentingan Publik Di Pernikahan Kahiyang
Tanggal 8 November,
Kompilasi Aduan Warga 1-31 Oktober 2017
Pada periode ini terdapat 11
Kompilasi Aduan Warga 1-30 September 2017
Pada periode ini terdapat 13