KABAR
21 November 2016
"Membeli" Imaji Halal

"Membeli" Imaji Halal

Pemberian sertifikasi halal adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam rangka untuk memberikan kepastian status kehalalan produk makanan.Selama ini Sertifikat halal identik dengan produk pangan, namun belakangan hal ini berubah. Halal tidak lagi sekedar makanan, kini sertifikasi halal mulai merambah ke produk pakaian, kosmetik, dan alat kecantikan lainnya.

Salah satu pelopor dalam hal ini adalah produsen jilbab "Zoya". Di awal tahun 2016, Zoya meluncurkan produk jilbab dengan stempel sertifikasi halal dari MUI. Tidak berhenti di sana, dalam iklannya Zoya juga mengklaim produknya sebagai jilbab halal pertama di Indonesia. Lalu apa masalahnya? Bukankah halal itu baik?

Perlu disadari, logo halal selain menjadi "penuntun" bagi konsumen muslim juga berfungsi sebagai strategi dalam promosi produk yang ingin menyasar umat muslim. Perlu diingat, umat muslim adalah target pasar paling besar di Indonesia.

Penggunaan imaji halal dalam iklan suatu produk di televisi belakangan ini telah menjadi model baru promosi. Setidaknya ada beberapa cara dalam menjual imaji halal dalam televisi. Pertama, dengan mengajak penonton meragukan produk-produk lain yang “tidak halal” atau belum berlogo halal. Jilbab misalnya, yang semula tidak pernah kita pertanyakan kehalalannya, lewat Iklan Zoya di televisi kita diajak meragukannya. Tujuannya tidak lain untuk menimbulkan rasa takut. Rasa takut dan ragu itulah yang kemudian akan menuntun kita memilih produk yang nantinya akan kita konsumsi.

Kedua, menggunakan tokoh agama untuk iklan produk. Beberapa iklan produk dalam televisi kerap menggunakan para tokoh agama untuk melekatkan produk mereka dengan otoritas keagamaan. Ketika Mamah Dedeh, ustad Maulana ataupun ustad Yusuf Mansur muncul dalam iklan televisi, mereka memberi nilai religius pada produk yang diiklankan. Terlebih jika produk tersebut menjadikan “kehalalan” sebagai nilai tambah produk mereka.

Ketiga, Gaya hidup "islami". Gaya hidup “islami” kerap menjadi simbol yang dijual produk kosmetik, khususnya oleh produk-produk yang menyasar target pasar muslimah. Sebagai contoh adalah Wardah. Berbeda dengan iklan kosmetik konvensional pada umumnya, iklan Wardah menggunakan bintang iklan wanita dengan atribut seorang muslimah yang berpakaian syar’i. Diferensiasi ini kian jelas terutama jika kita bandingkan dengan iklan komestik konvensional yang umumnya menampilkan model wanita dengan pakai “seksi”.

Strategi komunikasi produk kosmetik berlabel halal juga dapat diidentifikasi melalui konstruksi  wanita dalam iklan mereka. Jika dalam iklan kosmetik konvensional, perempuan selalu diasosiasikan dengan seorang pria. Wanita harus pandai bersolek  untuk mendapatkan perhatian dari pria. Hal demikian tidak akan kita temui dalam iklan kosmetik berlabel halal seperti Wardah. Dalam iklannya, Wardah menampilkan sosok wanita muslimah seorang diri tanpa relasi dengan pria. Wardah ingin mengatakan wanita muslimah mempercantik diri bukan demi pria. Wanita ditempatkan sebagai sosok yang independen. Sekilas tampak positif, namun benarkah dengan mengkonsumsi Wardah kita menjadi muslimah independen?

Tentu tidak ada korelasi antara konsumsi produk dengan gaya hidup. Namun persis inilah ilusi yang hendak di tanam produsen produk-produk berlabel halal di kepala penonton, yakni konsumsi produk akan menambah keimanan kita. Pada akhirnya, lepas dari segala pesan moral, nilai-nilai religius yang ditawarkan tidak lain adalah bujuk rayu agar kita menjadi menjadi konsumen yang setia.

(Muh. Iswar Ramadhan/RAPOTIVI)

Kompilasi Aduan Warga 1 - 31 Mei 2017
Pada periode ini terdapat 123
Kompilasi Aduan Warga 1 - 30 April 2017
Pada periode ini terdapat 71
KNRP Luncurkan RUU Penyiaran Versi Publik
Proses revisi regulasi yang
Rapotivi Bawa 109 Aduan Warga Ke KPI
Pada 19 April 2017, Komisi