KABAR
24 Juni 2016
FTV dan 7 Jurus Cintanya

Film Televisi atau lebih akrab disebut FTV adalah jenis film yang diproduksi untuk televisi. FTV ini biasanya dibuat oleh stasiun televisi atau Rumah Produksi (Production House/PH). FTV rata-rata berdurasi 120 sampai 180 menit.

Berbeda dengan film layar lebar yang ditayangkan di televisi. Ini tidak dianggap sebagai FTV tapi tetap film layar lebar. Di beberapa negara lainnya, FTV lebih dikenal dengan sebutan TV Movie. FTV atau TV Movie sejatinya bisa mengangkat beragam tema sebagai alur cerita, mulai dari aksi, petualangan, horor, hingga cerita tentang kehidupan sehari-hari. Kita bisa lihat tayangan Lightspeed, yang tayang di stasiun televisi Syfy. TV Movie ini diproduksi oleh Syfy yang mengangkat aksi superhero sebagai jalan ceritanya. Ada juga tayangan Scarecrow yang tayang di stasiun televisi yang sama, namun bergenre horor.

Tak melulu soal kehidupan sehari-hari atau percintaan seperti yang tayang di stasiun televisi kita. Alih-alih menciptakan FTV dengan tema yang beragam, FTV di stasiun televisi kita justru mengangkat tema yang itu-itu saja dengan alur yang mudah ditebak. Kisah cinta. Ya, tema kisah cinta memang tidak ada salahnya untuk diangkat menjadi sebuah tayangan. Namun, akan menjadi bermasalah jika alur cerita ini picisan, mudah ditebak, dan tidak logis meskipun menampilkan cerita kehidupan sehari-hari. Justru kisah cinta yang mayoritas diangkat dalam cerita FTV hanyalah sebuah mitos, yang terus dilestarikan oleh Rumah Produksi atau stasiun televisi.

Dalam infografis “7 Jurus Cinta FTV” yang diterbitkan oleh Remotivi dari hasil amatan terhadap empat judul FTV yang tayang di dua stasiun televisi yaitu RCTI dan SCTV, kita dapat melihat pola cerita yang seragam meski berbeda judul. Dari amatan ini, kita bisa simpulkan bahwa kisah percintaan antara dua orang yang berbeda latar belakang, di mana pada pertengahan cerita pasangan ini menemui masalah, entah tidak disetujui salah satu keluarga dari pasangan ini atau salah satu pasangan ini telah memiliki kekasih. Cerita diakhiri dengan keduanya akhirnya bisa menjalin asmara.

Tidak hanya soal ide cerita atau alur cerita dari FTV ini yang tidak beragam. Kadang, penggarapan dari segi teknisnya pun kurag diperhatikan. Ya, lagi-lagi tayangan televisi kita sangat berorientasi pada profit. Padahal UU Penyiaran mengamanatkan kegiatan penyiaran berfungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, serta kontrol dan perekat sosial. Dalam P3SPS pun disebut bahwa lembaga penyiaran wajib memperhatikan kemanfaatan dan perlindungan untuk kepentingan publik.

Lalu, apakah semua FTV di Indonesia ini hanya mengandalkan 7 Jurus Cinta seperti infografis di atas? Ternyata ada FTV yang berhasil memenangkan berbagai penghargaan, yang digarap secara serius, dan dengan ide cerita yang berbeda. Misalnya saja FTV “Pahlawan Terlupakan” yang bercerita tentang sosok olahragawan yang berprestasi. Namun, setelah memasuki usia pensiun ia harus bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup, bahkan hingga menjual medali dan sertifikat kejuaraan yang pernah ia raih. FTV yang lain ada Garis Finish, Tiga Butir Kurma, Jam Tangan Untuk Ibu, dan sebagainya yang alur ceritanya tak melulu soal mitos cinta.  

Nah, jika hanya menampilkan cerita yang itu-itu saja dan dengan penggarapan dari segi teknis yang kurang maksimal, mengapa harus tayang di frekuensi milik publik, ya?

Kompilasi Aduan Warga 1 - 31 Mei 2017
Pada periode ini terdapat 123
Kompilasi Aduan Warga 1 - 30 April 2017
Pada periode ini terdapat 71
KNRP Luncurkan RUU Penyiaran Versi Publik
Proses revisi regulasi yang
Rapotivi Bawa 109 Aduan Warga Ke KPI
Pada 19 April 2017, Komisi