KABAR
27 Mei 2016
Ada Apa Dengan Sensor?

Beberapa waktu ini publik di media sosial ramai memperbincangkan sensor yang terlihat di beberapa tayangan televisi. Pro-kontra publik mengenai sensor memuncak saat gelaran acara kontes Putri Indonesia yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi dengan memburamkan belahan dada para kontestan yang menggunakan kebaya. Mayoritas publik salah paham mengenai pihak yang melakukan sensor seperti yang dalam hasil survei pada infografis “Ada Apa Dengan Sensor”.

Dalam infografis tersebut, terlihat hasil survei bahwa 91.8% responden tidak setuju dengan adanya sensor pada perempuan yang menggunakan busana adat dengan alasan 63% karena menghormati budaya. Menurut responden yang seharusnya mendapatkan prioritas sensor antara lain kata-kata kasar (74.5%), darah dan mayat (65.8%), kekerasan fisik (63.6%), dan sebagainya. Sensor di Indonesia diatur oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Namun, stasiun televisi diberi wewenang untuk melakukan sensor internal. Jika masih ditemukan pelanggaran dalam P3SPS akibat tidak dilakukannya sensor, maka stasiun televisi akan menerima sanksi dari KPI.

Lalu, bagaimana penerapan sensor dalam tayangan televisi di negara lain?

Misalnya di Amerika Serikat yang mempunyai sebuah lembaga yang mengatur tentang penyensoran yang awalnya bernama The Nation Board Censorship (NBC). Mulanya, NBC menyensor film sama persis dengan yang dilakukan di Indonesia saat ini. Karena memang regulasi soal sensor di Indonesia berkiblat pada lembaga di AS ini. Jika ada adegan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat dan berpengaruh buruk, maka lembaga ini akan menghapusnya dari film tersebut. Namun, dalam perkembangannya, lembaga yang berganti nama menjadi Motion Picture Association of America (MPAA) mengganti sistem penyensoran menjadi klasifikasi film menurut usia penontonnya yang layak. Lembaga ini di Amerika berdiri dalam asosiasi bisnis filmnya.

Berbeda dengan LSF di Indonesia yang mengeluarkan Surat Tanda Lulus Sensor untuk setiap program acara atau film yang akan tayang, MPAA hanya mengklasifikasikan tayangan berdasarkan usia pemirsanya. Di bawah MPAA, Amerika Serikat mempunyai lima klasifikasi usia: G (General Audiences – semua umur), PG (Parental Guidence Suggested – bimbingan orang tua), PG-13 (Parents strongly cautioned – Peingatan keras bagi orang tua), R (Restricted – Terbatas), dan NC-17 (No One 17 and under admitted – Dewasa 17 tahun ke atas).

Tak berbeda jauh dengan Amerika Serikat. Inggris memiliki sebuah lembaga untuk pengklasifikasian tayangan bernama British Board of Film Classification (BBFC). Lembaga non-profit ini berdiri pada tahun 1912 sebagai British Board of Film Censors yang berdasar pada peraturan Cinematograph Act di tahun 1909. Lembaga ini berubah nama sejak 1984 yang mencerminkan fakta bahwa klasifikasi memainkan bagian yang jauh lebih besar oleh dewan dalam lembaga ini dari pada sekedar masalah sensor.

BBFC mengklasifikasikan usia untuk tayangan dalam enam klasifikasi, yakni U (suitable for us – semua umur), PG (parental guidance – bimbingan orang tua), 12A (Cinema release suitable for 12 years and over – Sinema untuk anak 12 tahun ke atas), 12 (Video release suitable for 12 years and over – tayangan video untuk anak 12 tahun ke atas), 15 (Suitable for 15 years and over – tayangan untuk remaja 15 tahun ke atas), 18 (Suitable for 18 years and over – tayangan untuk 18 tahun ke atas), dan R18 (adults works for licensed premises only – khusus untuk orang dewasa yang mendapatkan ijin).   

Dari kedua contoh negara di atas, keduanya awalnya mempunyai lembaga censorship, tapi seiring berjalannya waktu keduanya mengubah cakupan kerja lembaga ini dari lembaga penyensoran ke lembaga untuk pengklasifikasian film. Alih-alih melakukan blur atau pemotongan adegan, kedua lembaga di dua negara ini lebih melihat pada relevansi klasifikasi tayangan dibanding penyensoran sebuah adegan.

Jadi, bagaimana menurut kalian? 

(RAPOTIVI/Septi D Prameswari)

Kompilasi Aduan Warga 1 - 31 Agustus 2017
Pada periode ini terdapat 17
Kompilasi Aduan Warga 1 - 31 Juli 2017
Pada periode ini terdapat 20
Perbaikan Tayangan Televisi Dengan Boikot Iklan
Sebagai penonton, apakah kamu
KPI Perlu Tetapkan Standar Tindak Lanjut Aduan
Pada Jumat, 14 Juli, Komisi