KABAR
13 Agustus 2015
Privasi Diumbar, Siapa yang Dihibur?

“Kamera 1 akan ikut dalam pengintaian pertemuan antara pacar kamu dan sahabat kamu yang kamu pikir selingkuh. Nanti kamera dimasukkan ke dalam tas.”

Begitulah kira-kira penggalan dialog dalam sebuah reality show yang bulan ini banyak diadukan publik melalui Rapotivi. Katakan Putus, merupakan reality show yang tayang di Trans TV setiap Senin – Jumat pukul 15.00 WIB dan bercerita tentang dua orang pembawa acara (host) yang membantu para klien memutuskan hubungan dengan pasangannya. Konsep acaranya tak jauh berbeda dengan Termehek-mehek (Trans TV), Playboy Kabel (SCTV), Mata-Mata (RCTI), dan sebagainya. Pada intinya, tayangan ini menampilkan masalah-masalah pribadi, menggunakan kamera tersembunyi untuk memata-matai seseorang atau menjebak seseorang dan berakhir dengan adu mulut bahkan adu jotos.

Menampilkan privasi, kekerasan, menggunakan kamera tersembunyi dalam tayangan televisi di Indonesia bukanlah hal baru, apalagi dalam tayangan bergenre reality show. Beberapa reality show  akhirnya dihentikan penayangannya karena melanggar peraturan penyiaran setelah memakan korban dan beberapa kali mendapat surat teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia.

MOP (Mbikin Orang Panik) yang tayang di RCTI akhirnya dihentikan penayangannya setelah dianggap mencemarkan nama baik kepolisian. Ini akibat dari salah satu episodenya yang mengangkat cerita seseorang yang digerebek karena kedapatan membawa narkoba. Ternyata tim MOP telah bekerja sama dengan oknum kepolisian dan menjebak korban agar panik dengan menyelipkan narkoba di kantongnya.

Acara lain yang dipaksa berhenti setelah memakan korban yaitu Harap Harap Cemas (SCTV). Acara ini dihentikan karena salah satu korban yang dimata-matai tidak terima dan mengancam host dengan menodongkan pistol. Ada lagi, Termehek-mehek (Trans TV) dihentikan karena menampilkan kekerasan dan kata-kata kotor saat para klien berkonflik.  

Tentu masih banyak contoh reality show lainnya yang menuai protes karena berlebihan dalam mengumbar privasi, menayangkan gambar dari kamera tersembunyi, kekerasan, dan sebagainya. Padahal dalam Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS), privasi, gambar dari kamera tersembunyi dan kekerasan telah diatur secara jelas.

“Program siaran wajib menghormati hak privasi dalam kehidupan pribadi objek isi siaran” dan

“Program siaran tentang permasalahan kehidupan pribadi tidak boleh menjadi materi yang ditampilkan dan/atau disajikan dalam seluruh isi mata acara, kecuali demi kepentingan publik.” (SPS Pasal 13)

“Program siaran dilarang menampilkan ungkapan kasar dan makian, baik secara verbal maupun nonverbal,” (SPS Pasal 24)

“Lembaga penyiaran tidak boleh menyiarkan materi program siaran langsung maupun tidak langsung yang diproduksi tanpa persetujuan terlebih dulu dan konfirmasi narasumber, diambil dengan menggunakan kamera dan/atau mikrofon tersembunyi, atau merupakan hasil rekaman wawancara telepon, kecuali materi siaran yang memiliki nilai kepentingan publik yang tinggi.” (P3 Pasal 28)

Kompilasi Aduan Warga 1 - 31 Mei 2017
Pada periode ini terdapat 123
Kompilasi Aduan Warga 1 - 30 April 2017
Pada periode ini terdapat 71
KNRP Luncurkan RUU Penyiaran Versi Publik
Proses revisi regulasi yang
Rapotivi Bawa 109 Aduan Warga Ke KPI
Pada 19 April 2017, Komisi