KABAR
22 Mei 2015
Pembatasan Tayangan Kekerasan untuk Lindungi Anak

Tayangan kekerasan dan pengaruhnya terhadap penonton, khususnya anak merupakan masalah yang perlu perhatian serius dari banyak pihak. Berita atau artikel mengenai dampak kekerasan di layar kaca tidak hanya segelintir. Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 telah mengatur sanksi bagi pengelola stasiun televisi yang menayangkan adegan kekerasan dan pornografi akan diancam hukuman penjara paling lama 5 tahun atau denda 10 milyar rupiah.

Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) pun banyak mengatur tentang muatan kekerasan dalam isi siaran televisi. Salah satunya dalam SPS BAB XIII tentang Pelarangan dan Pembatasan Kekerasan. Pasal 23 menyebutkan bahwa program siaran yang memuat adegan kekerasan dilarang menampilkan secara detail peristiwa kekerasan; menampilkan manusia atau bagian tubuh yang berdarah-darah atau dalam kondisi mengenaskan; menampilkan tindak sadis terhadap manusia atau hewan; menampilkan adegan memakan hewan dengan cara tak lazim.

Selain itu program siaran dalam genre apapun dilarang menampilkan ungkapan kasar dan makian baik secara verbal maupun nonverbal. Semua ini tentu saja untuk melindungi anak-anak dari pengaruh buruk apa yang ditontonnya. Sifat alami anak yang rentan meniru apa yang dilihat seharusnya menjadi salah satu pertimbangan bagi televisi untuk menyiarkan konten-konten kekerasan. Terlalu sering menonton tayangan kekerasan juga dapat mengikis ketidakpekaan individu terhadap kekerasan.

Seperti yang telah diceritakan Juki dalam komiknya edisi terbaru, televisi seharusnya memperhatikan hal ini dalam memproduksi sebuah tayangan apalagi di luar jam tayang dewasa. Tapi, bukan berarti saat jam tayang dewasa yaitu pukul 22.00 – 05.00 adegan kekerasan boleh disiarkan secara bebas. Tetap ada pembatasan adegan kekerasan, misalnya menampilkan detail peristiwa kekerasan tetep dilarang untuk ditampilkan.  

Tentu kita masih ingat kasus Smack Down yang akhirnya dihentikan penayangannya karena semakin banyak anak-anak menjadi korban akibat meniru adegan kekerasan dalam tayangan tersebut. Beberapa waktu lalu publik kembali dihebohkan dengan berita meninggalnya seorang anak setelah bermain dengan temannya menirukan adegan perkelahian di sinetron 7 Manusia Harimau.

Apakah kita hanya diam menyaksikan banyaknya sinetron yang mengumbar kekerasan dan memberi dampak buruk bagi orang-orang di sekitar kita? Sebagai warga, kita berhak mendapat tontonan yang sehat dengan mendorong KPI menjatuhkan sanksi bagi stasiun televisi yang melanggar. Salah satu caranya, warga bisa mengadukan tayangan televisi yang tidak sehat tersebut.

Kompilasi Aduan Warga 1-30 November 2017
Pada periode ini terdapat 13
Tak Ada Kepentingan Publik Di Pernikahan Kahiyang
Tanggal 8 November,
Kompilasi Aduan Warga 1-31 Oktober 2017
Pada periode ini terdapat 11
Kompilasi Aduan Warga 1-30 September 2017
Pada periode ini terdapat 13