KABAR
17 April 2015
Kita Tidak Menonton Tayangan TV dengan Gratis

Ketika berbicara tentang pengaduan tayangan televisi, sebagian orang berpendapat bahwa tayangan televisi dapat ditonton secara gratis, jadi untuk apa repot-repot mengadukan tayangan.

Eits, tunggu dulu. Kita perlu mengingat bahwa televisi dapat bersiaran melalui sarana pemancar atau transmisi dengan menggunakan spektrum frekuensi radio. Pemancar ini dipasang di berbagai tempat melalui kabel dan/atau media lainnya untuk menangkap spektrum frekuensi tersebut. Melalui frekuensi inilah siaran televisi dapat diterima secara serentak oleh masyarakat menggunakan perangkat penerima (dalam hal ini perangkat televisi). Demikianlah yang tercantum dalam pasal 1 ayat 2 Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS).  

Nah, dengan demikian sebenarnya tayangan televisi yang hadir di rumah kita tentu tidak gratis. Ya, karena pemerintah menggunakan pajak dari masyarakat untuk membiayai pengelolaan frekuensi tersebut. Ingat bahwa frekuensi adalah sumber daya alam yang terbatas yang dikelola negara untuk kemaslahatan masyarakat sebesar-besarnya. Inilah amanat Undang-Undang yang juga tercantum dalam Peraturan KPI tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) bahwa frekuensi adalah milik publik.

Kita perlu ketahui bahwa stasiun televisi hanya meminjam frekuensi milik publik ini untuk melakukan siaran. Tapi masyarakat luas ternyata belum menyadari tentang hal ini. Seperti yang terlihat dalam infografis “Frekuensi Punya Siapa?”. Dari 137 responden yang berstatus mahasiswa di Jakarta, hanya 15% yang menyatakan bahwa frekuensi milik publik dan sekitar 58% menyatakan bahwa frekuensi milik korporasi/stasiun televisi.

Tentu stasiun televisi mendapat keuntungan yang sangat besar dari iklan komersil yang ditayangkan. Oleh sebab itu, karena sudah meminjam frekuensi milik publik dan mengambil untung dari siaran iklan, stasiun televisi harus memenuhi hak publik dengan menyediakan tayangan yang sehat, benar dan bermanfaat bagi publik. (Redaksi)

Kompilasi aduan 1 - 28 Februari 2017
Pada periode ini terdapat 50
Perlindungan, Anak-Anak, dan Televisi
“Akhir April 2015 lalu,
RAPOTIVI Resmi Terintegrasi Dengan LAPOR!
Berita gembira! Terhitung
Kompilasi Aduan 1 - 31 Januari 2017
Pada periode ini terdapat 60