KABAR
28 Juli 2017
Perbaikan Tayangan Televisi Dengan Boikot Iklan

Sebagai penonton, apakah kamu sering kesal dengan tayangan TV yang tak bermutu? Selain mengadukan tayangan buruk ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), sebenarnya ada alternatif lain yang bisa kamu jadikan alat untuk membuat stasiun TV jera. Boikot produk-produk yang mensponsori tayangan TV buruk sebetulnya bisa menjadi “hukuman” dari pemirsa agar stasiun TV tak lagi menayangkan program-program yang membodohi masyarakat.

Tayangan televisi tampak seperti hadir dengan “cuma-cuma” alias “gratis” dalam rumah kita. Padahal, penonton sejatinya adalah pekerja tak kasat mata yang dimanfaatkan stasiun televisi untuk mendatangkan pundi-pundi uang yang memperkaya pemilik stasiun televisi. Tanpa partisipasi penonton, stasiun televisi tak mungkin bisa menjaring pengiklan. Karenanya, untuk mendapatkan iklan, diperlukan suatu tolak ukur yang mampu mewakili seberapa banyak penonton suatu program. Di sinilah fungsi rating dan share. Dalam industri televisi, rating dan share berfungsi sebagai alat tukar. Yang dipertukarkan ialah jumlah penonton dan iklan.

Di Indonesia, angka rating dan share diperoleh dari sebuah lembaga bernama Nielsen Media Research (NMR). Dari 52 juta rumah tangga yang memiliki pesawat televisi di Indonesia, Nielsen memilih kurang lebih 2.200 di antaranya untuk dijadikan panel. Panel adalah rumah tangga yang dijadikan sampel yang dipilih berdasarkan demografi tertentu: usia ( 5 tahun ke atas), status sosial ekonomi, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan.

Untuk memperoleh data kepemirsaan, setiap televisi yang dimiliki panel dipasang sebuah alat yang bernama peoplemeter. Setiap anggota keluarga dalam panel diminta untuk menekan suatu tombol yang mewakili dirinya (ayah/ibu/anak) setiap kali hendak menonton televisi. Tak hanya memperoleh data siapa menonton program apa, karena ia merekam terus menerus selama 24 jam,  Peoplemeter juga dapat memperoleh data perilaku menonton televisi menit per menit perpindahan penonton dari satu program ke program lainnya.

Data-data ini kemudian akan disimpulkan menjadi angka rating dan share. Rating adalah perbandingan jumlah panel yang menonton sebuah tayangan dengan jumlah seluruh panel. Sementara share adalah persentase jumlah panel yang menonton sebuah tayangan dibagi dengan jumlah panel yang saat itu sedang menonton televisi. Angka rating akan menjadi tolak ukur untuk menetukan cost per rating point (CPRP), yaitu biaya untuk menjangkau 1% dari target konsumen tertentu.

Semakin tinggi rating sebuah program, maka semakin tinggi pula tarif per spot iklan pada program tersebut. Hal ini karena dengan rating yang tinggi, hitungan CPRP-nya jadi lebih rendah. Misalkan saja program Y mendapat rating 15 dengan tarif Rp 15.000.000,00 per spot iklan. Sementara program Z mendapat rating 20 dengan tarif Rp 18.000.000,00 per spot iklan. Jika dihitung, CPRP program Y adalah Rp 1.000.000 dan CPRP program Z adalah RP 900.000,00. Dengan demikian, pengiklan akan cenderung memilih membeli spot iklan di program Z karena biaya untuk menjangkau 1% audiens lebih murah dibanding di program Y. Jadi bisa dilihat betapa rating sangat menentukan pendapatan stasiun televisi dari iklan.

Ketakutan terbesar stasiun televisi adalah kehilangan pendapatan dari pengiklan. Dan ketakutan terbesar pengiklan adalah jika produknya tidak dibeli oleh konsumen. Siapa konsumennya? Ya kita-kita yang menonton televisi ini. Sehingga jika ada suatu gerakan yang masif untuk memboikot suatu produk, karena produk tersebut mensponsori suatu acara televisi bodoh, bisa jadi akan berhasil. Syaratnya, boikot harus cukup masif hingga pengiklan merasakan mengalami penurunan penjualan. Kalau sudah begitu, bisa jadi pengiklan akan menarik sponsornya dari acara televisi yang dimaksud. (RAPOTIVI/Nurvina Alifa)

Kompilasi Aduan Warga 1-30 September 2017
Pada periode ini terdapat 13
Kompilasi Aduan Warga 1 - 31 Agustus 2017
Pada periode ini terdapat 17
Kompilasi Aduan Warga 1 - 31 Juli 2017
Pada periode ini terdapat 20
Perbaikan Tayangan Televisi Dengan Boikot Iklan
Sebagai penonton, apakah kamu